Ingatan Ramadan

1016997_586540674718524_1150416968_n
Foto Bersama Teman Posko

Momen sahur dan buka puasa di hari pertama bulan Ramadan adalah sesuatu yang selalu saya usahakan agar tidak terlewatkan.

Hal tersebut mengingatkan saya saat tiga tahun lalu, untuk pertama kalinya saya tidak menjalani puasa di hari pertama bulan Ramdan bersama keluarga. Saat itu saya mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Lamasi Kabupaten Luwu. Selain jarak antara Lamasi dan Makassar yang tidak dekat, saya dan teman se-posko telah sepakat, untuk tidak pulang menyambut puasa. Alasan paling mendasar adalah banyak program kerja yang telah kami rencanakan saat itu.

Saya dan teman se-posko berjumlah tujuh orang, tiga perempuan dan empat laki-laki. Kebetulan  saya di tempatkan di posko kecamatan (posko pusat). Selain tempatnya yang strategis karena tidak jauh dari kota, kondisinya juga sangat berbeda dengan yang saya bayangkan sebelumnya.

“Terlalu mewah”, itu yang saya ucapkan dalam hati ketika sampai di posko yang telah disediakan Ibu Lurah  kepada kami. Sebelum berangkat KKN, saya banyak berdiskusi dengan senior-senior yang telah pernah mengikuti KKN sebelumnya, mereka banyak bercerita.

“Jangko lupa bawa sleeping bag dek, karena kemungkinan melantai ko itu di sana” Ucap Kak Nanna, salah satu senior di kampus waktu itu.

“Ingatko dek…hati-hatiko kalau mandi di sungai atau di sumur…bahaya sekali itu orang-orang yang tidak dikenal” Ucap Kak Aqilah yang merupakan senior favoritku.

“Iye Kak…hehehe” jawabku  waktu itu.

Banyak sekali cerita-cerita senior yang membuat saya merasa khawatir sebelum berangkat ke lokasi KKN. Di antaranya ada yang bercerita tentang ketidakcocokan mereka dengan pemilik rumah, pertengkaran mereka dengan sesama teman posko, hingga ada yang mengaitkannya dengan hal-hal mistis. Ia menjelaskan akan selalu ada makhluk halus yang biasanya mengganggu orang baru (pendatang) di daerah itu. Ada juga yang menasihati untuk tidak menjemur pakaian dalam, di luar rumah. Entahlah apa maknanya, intinya hal tersebut adalah sesuatu yang buruk jika terjadi.

Keadaan yang saya alami di lokasi KKN sangat berbeda, dari cerita kebanyakan senior sebelumnya.  Mungkin yang ini, lebih tepatnya harus saya syukuri.

Wanita di posko kecamatan hanya ada tiga orang (Saya, Maya dan Yuyun). Kami pun ditunjukan kamar yang akan kami tempati. Di dalam kamar itu terdapat kasur yag cukup besar, sangat muat untuk kami bertiga yang sama-sama berbadan langsing (kurus lebih tepatnya).

Di dalam kamar itu, juga terdapat lemari hias dan kamar mandi, wuahh…ini sangat jauh dari ekspektasiku, yang sebelumnya telah membayangkan akan mandi di sungai ataukah di sumur.

Sedangkan yang laki-laki, karena jumlah mereka ada empat orang. Mereka diberikan jatah dua kamar, Fadly sekamar dengan Adam dan Satir sekamar dengan Saiful. Masing-masing dengan kasur empuk dan lemari. Ah…posko kami terlalu nyaman, rasanya tidak ada tantangan. Padahal saya sudah membawa sleeping bag jauh-jauh dari rumah, saya berfikir akan berguna untuk survive dikondisi yang benar-benar genting.

Di rumah atau yang kerap kami sebut posko itu, hanya ada kami bertujuh. Pemilik rumah, Ibu Aji dan suaminya memilih tinggal di rumah sebelah, yang merupakan rumah kedua sekaligus tempat usaha mereka. Semenjak semua anak-anaknya merantau, dua rumah yang saling bersebelahan dan sama besarnya itu hanya ditinggali oleh mereka berdua.

Memasuki bulan Ramadan, sahur pertama tanpa orang tua dan jauh dari rumah merupakan pertama kalinya untuk saya. Ditambah lagi harus bangun lebih awal untuk menyiapkan sahur. Tidak jarang saya menelpon mama saat waktu senggang dan menanyakan segala resep mengolah ayam dan sayur.

Sahur hari pertama, berjalan dengan sukses. Kami semua kompak menyiapkan sahur bersama, menu utama kami adalah ayam goreng, sayur kangkung, dan tempe. Keesokan harinya, telur ceplok, nugget dan mie instan sebagai pengganti sayur. Kemudian hari-hari berikutnya berlalu dengan menu yang sama.

Hingga kejenuhan melandai kami, bosan dengan makanan instan yang itu-itu saja. Kami berinisiatif berbelanja menu lain dan akhirnya memasak sayur bening, ikan kering dan cobek-cobek (sambal; cabai, tomat, terasi semuanya di goreng, kemudian diulek bersama garam dan irisan jeruk purut) ahh….nikmatnya, akhirnya sahur kali itu kembali hidup.

Ada suatu waktu, ketika Saya, Yuyun dan Maya bersamaan telat bangun. Mungkin kala itu kami terlalu lelah karena seharian menjalankan program kerja. Sehingga saat tidur, alarm pun yang tiap malam saya pasang pukul 03.15 wita, tidak saya hiraukan lagi. Yuyun membangunkan sekitar pukul  04.00 wita.

“Wen!Wen! jam 4 mi” suara Yuyun panik. Sambil membangunkan Maya juga “Maya…Maya….jam 4 mi, belumpi ki masak”

 “Hah…iyokah? ayomi paeng masak” ujarku dengan suara yang masih parau.

 Saya masih menyipitkan mata, berusaha melihat dengan jelas keadaan sekitar dan bangun menuju kamar mandi untuk mencuci muka.

Saya baru ingat, saat pulang tarawih tidak ada satupun dari kami yang memasak nasi.

“wih…ndak ada nasi Yun…dilupai tadi malam masak” saya mulai panik sambil menyegerakan membilas muka.

“wihh..iyo di’….saya juga lupa” kata Yuyun,

“ihh..saya juga..”kata Maya sambil memakai jilbabnya.

“Sahur….sahur….weh wanitaa….bangun makooo” suara Satir memanggil dari luar, sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar kami.

Kami semua keluar kamar dan melihat ke meja makan, yang jaraknya tidak jauh dari pintu kamar kami. Nasi, tempe goreng tepung, sayur kangkung, nugget goreng dan piring dengan jumlah seperti biasanya. Semua masih tersusun rapi di atas meja. Adam, Fadly, Saiful  telah duduk di depan meja makan. Sedangkan Satir masih sibuk mengambil gelas.

Ahh….mereka memang para lelaki so sweett….

“Jam berapako bangun Satir?” Kata Yuyun

“jadi senang mako itu semuaa??” Ucap Satir dengan nadanya yang agak sedikit kasar.

Namun karakter Satir memang seperti itu, kami sudah terbiasa. Kami tahu jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Ia adalah lelaki yang sangat penyayang.

“tidak tidur ka’….begadang ka’ main game…kasianka liatko semua selalu bangun memasak subuh-subuh, makanya hari ini gantian saya yang masakkanko toh” Satir menjelaskan alasannya.

Saya merasa terharu mendengar Satir mengatakan itu. Di antara mereka ber-empat, memang Satir lah yang paling sering bergelut dengan dapur. Baik itu sekadar memasak mie instan ataupun menggoreng telur, itupun karena seleranya kadang berbeda dengan kami. Sedangkan  Fadly, Adam dan Saiful lebih cenderung menerima makanan apa saja yang tersedia di meja makan.

Saya sangat bersyukur saat itu, untunglah mereka kompak memasak dan menyiapkan sahur untuk kami. Sebagai  wanita di rumah itu, hampir saja saya merasa bersalah, karena lupa menyiapkan sahur untuk orang-orang yang ingin berpuasa.

Hampir dua bulan kami tinggal se-atap. Sedikitpun kami tidak pernah bertengkar karena masalah besar. Yang menjadi masalah kecil hanya persoalan kamar mandi yang selalu tersumbat. Hanya satu kamar mandi yang layak digunakan di rumah itu, sehingga kami selalu berebut masuk setiap selesai berbuka puasa.

Saya tidak sedih ataupun kecewa, karena melewatkan momen sahur pertama bersama keluarga. Dengan adanya teman-teman posko, di sana saya tidak merasa kehilangan sosok keluarga sedikit pun. Waktu itu, kami seperti keluarga kecil yang hidup bahagia, tapi sayang sekali tidak selamanya kami harus bersama.

Kesibukan masing-masing saat ini, membuat kami sudah jarang saling berkomunikasi, terlebih lagi untuk bertatap muka. Memang masa itu telah berlalu, sudah hampir tiga tahun lamanya dan saya masih mengingat setiap detail bersama mereka. Sungguh menjadi ingatan Ramadan yang akan selalu saya kenang.

***

Iklan

Penulis:

SarwendahMoury| Sang Pemimpi|Pemilik segudang mimpi|Bermimpi tiap hari| berharap mimpi bukan hanya sekedar mimpi| memimpikan semua hal indah|ayo bermimpi|jangan takut tuk bermimpi|karena bermimpi sangatlah menyenangkan| hay mimpiku...tunggu aku!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s