Suatu Saat Kelak

IMG_2841.JPG
Gedung Pascasarjana IPB

Berbicara soal impian, ada ribuan mimpi yang masih memenuhi  pikiran saya saat ini. Tapi saya juga tidak mengerti, segala impian itu terasa sangat sulit untuk saya keluarkan menjadi sebuah tulisan. Mungkin karena ketidakahlian saya dalam meracik sebuah kalimat yang tepat, ataukah saya yang terlalu malu untuk menuliskannya menjadi sebuah cerita yang dikonsumsi orang lain.

Mimpi, seketika ingatan saya kembali saat dua tahun lalu. Masa di mana saya sibuk mengurus persiapan, untuk melanjutkan kuliah S2 di sebuah perguruan tinggi ternama di Bogor. Setelah lulus S1, hampir tiga bulan saya sibuk wara-wiri di kampus menyiapkan segala berkas pendaftaran. Mulai dari menunggu keluarnya ijazah S1,  menyusun sinopsis rencana penelitian S2 (salah satu persyaratan penting untuk mendaftar), menyiapkan toefl, melakukan pendaftaran kampus tujuan, hingga mengurus pendaftaran beasiswa.

Semua proses tidak berjalan mudah, setiap berkas dan persyaratan memiliki kesulitan dan tantangannya masing-masing. Bahkan saat kesulitan itu memuncak, tidak jarang saya masuk kamar mandi fakultas. Memutar full keran air, hingga mengalir deras mengisi ember kosong yang ada di dalamnya dan saat itu lah saya menangis sejadi-jadinya.

Meluapkan segala emosi, kekesalan dan stres dengan menangis adalah cara terbaik saat itu. Terkadang saya membutuhkan waktu setengah jam untuk menangis dan keluar dengan mata sembap.

Mimpi melanjutkan kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB), merupakan mimpi utama saya saat itu. Entahlah kenapa saya sangat bercita-cita melanjutkan sekolah dan tinggal di sana. Bahkan saya pernah bertekad, tidak akan melanjutkan S2 jika bukan di IPB.

Saya pernah sekali berkunjung ke Bogor untuk menghadiri sebuah kegiatan nasional. Saat itu, saya menjadi salah satu dari sepuluh orang, yang berangkat untuk mewakili Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas. Pertama kali menginjakkan kaki di kota yang kerap dijuluki sebagai Kota Hujan tersebut, membuat saya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan kota itu. Udara yang sejuk, pemandangan yang hijau, membuat saya ingin terus berlama-lama di sana.

Di pusat kota, terdapat Kebun Raya Bogor yang akan memanjakan mata. Bahkan tidak hanya menyajikan lokasi rekreasi saja, Kebun Raya Bogor juga menjadi pusat pendidikan dan lokasi observasi tanaman, konon terdapat 15.000 jenis pohon dan tumbuhan yang ada di dalamnya. Tidak jauh dari  Kebun Raya Bogor, terdapat Gedung Pascasarjana IPB yang berdiri megah di pusat kota. Sedangkan kampus utama IPB terdapat di Dramaga Bogor, lokasinya lumayan jauh dari pusat kota. Kira-kira butuh waktu 30 menit mengendarai motor dari pusat kota ke Dramaga Bogor.

Hampir seminggu saya berada di sana, tepatnya di asrama kampus IPB yang terletak di Dramaga Bogor. Di sana kami bertemu dengan teman-teman sesama fakultas dari berbagai penjuru kampus, mulai dari sabang sampai merauke. Kami pun disambut dengan beberapa dosen IPB yang begitu hebat, saya sempat mencari tahu track record mereka di website dan saya terkagum-kagum dengan segala riset dan karya-karya mereka. Setelah itu, kami diajak menuju Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW). Gunung Walat yang luasnya sekitar 359 Ha itu merupakan  hutan pendidikan IPB, pengelolaanya di serahkan oleh fakultas kehutanan, saya pun belajar banyak ketika berada di sana.

Mimpi, kembali pada mimpi saya beberapa tahun lalu. Usai mengurus segala berkas pendaftaran dan juga beasiswa, saya harus menunggu pengumuman sekitar dua bulan. Di samping itu, dengan bermodalkan ijazah yang baru keluar, saya iseng mendaftar di sebuah perusahaan lembaga penelitian yang saat itu membuka lowongan pekerjaan. Tidak butuh waktu lama, saya pun mendapat panggilan untuk mengikuti rangkaian tes, hingga dinyatakan lulus. Kebersediaan mengikuti pelatihan kerja akan diumumkan beberapa minggu lagi, sedangkan pengumuman kelulusan saya di IPB dan Beasiswa yang saya apply belum ada kejelasan sama sekali.

Bersamaan dengan penantian pengumuman saya, adik saya yang saat itu baru lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) dan telah mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), dinyatakan tidak lulus di berbagai Universitas Negeri yang ia tempati mendaftar. Rasa kecewa bukan hanya dirasakan oleh adik saya, tapi juga orang tua dan saya pribadi.

Masuk di Universitas Negeri merupakan idaman para orang tua. Bukan hanya dianggap bergengsi tapi yang paling utama adalah rendahnya biaya kuliah. Adik saya saat itu lulus di sebuah Universitas Swasta, yang biaya per-semesternya hampir tujuh kali lipat dibanding Universitas Negeri.

Saya dinyatakan lulus di IPB, perasaan senang tentu sangat menyelimuti saya saat itu. Saya pun dengan semangat, memberi tahu kabar gembira tersebut pada orang tua saya. Saya bisa menebak raut muka bapak saya yang cukup senang, namun dengan tegas ia menyatakan ketidaksanggupannya untuk membiayai kuliah S2 saya. Bapak menjelaskan dengan alasan yang sangat rasional yaitu biaya kuliah adik saya, biaya kuliah saya jika lanjut S2 di tambah dengan biaya hidup saya jika tinggal di Bogor.

Saya yakin, semua menjadi pertimbangan yang sangat berat bagi bapak, dan sudah pasti saya tidak boleh egois, pendidikan adik saya untuk melanjutkan kuliah S1-nya jauh lebih penting. Raut wajah kecewa juga ditampakkan oleh ibu saya, beliau tahu betul kalau saya ingin sekali kuliah di IPB sejak lama. Saya pun menjelaskan kepada bapak dan ibu, bahwa saya sudah mendaftar dua jenis beasiswa dan saya berjanji tidak akan kuliah jika bukan dengan beasiswa itu.

Saya yakin akan lulus salah satu dari beasiswa itu, namun kekhawatiran tentu masih ada. Pengumuman beasiswa tak kunjung datang, sedangkan beberapa minggu lagi merupakan akhir pendaftaran ulang S2 di IPB. Segala pertimbangan dan harapan masih ada di depan mata kala itu. Hingga tiba dua hari lagi masa akhir pendaftaran ulang.

Beberapa teman menyarankan saya, untuk segera melakukan pendaftaran ulang,  karena pengumuman beasiswa bisa jadi setelah itu. Saya berfikir, jika saya melakukan daftar ulang dan saya tidak lulus satupun beasiswa, itu sama saja sia-sia.

Saya memutuskan ke Yogyakarta. Dua hari sebelum daftar ulang berakhir, saya menerima email berisi tiket pesawat dan data yang perlu saya lengkapi. Saya bersedia mengikuti pelatihan selama sebulan, dari sebuah perusahaan lembaga penelitian, yang sebelumnya menerima saya bekerja. Dan mulai saat itu, saya telah memutuskan meninggalkan mimpi saya.

Seminggu menjalani pelatihan, saya pun mendapat kabar bahwa saya lulus beasiswa freshgraduate dari Fakultas Kehutanan IPB. Tapi sayang seribu sayang, masa pendaftaran ulang telah berakhir, sayapun telah terikat kontrak dengan perusahaan. Saya hanya bisa masuk kamar mandi dan seperti biasa, menyalakan keran air sederas-derasnya hingga menangis sejadi-jadinya.

Dulunya saya berfikir, suatu saat saya akan menceritakan impian saya itu kepada orang lain ketika  terwujud. Tapi bukankah tujuan impian adalah menjadi kenyataan? dan untuk menjadi kenyataan bukankah butuh lebih banyak usaha dan banyak doa dari orang lain? Maka dari itu, mulai hari ini saya akan berani menuliskan mimpi saya , agar lebih banyak doa yang ter-aminkan oleh orang yang membaca impian tersebut.

Terima kasih Kelas Menulis Kepo, mungkin tanpa tema “Tempat Impian”, saya tidak  akan berani menceritakan salah satu mimpi saya ini. Saya masih berharap, melanjutkan kuliah di sana bukan hanya sekadar mimpi, tapi mungkin suatu saat kelak.

#SebulanNgeblogKepo

 

Iklan

Penulis:

SarwendahMoury| Sang Pemimpi|Pemilik segudang mimpi|Bermimpi tiap hari| berharap mimpi bukan hanya sekedar mimpi| memimpikan semua hal indah|ayo bermimpi|jangan takut tuk bermimpi|karena bermimpi sangatlah menyenangkan| hay mimpiku...tunggu aku!!

2 tanggapan untuk “Suatu Saat Kelak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s