Da’du

IMG_4971
Foto Bersama Da’du

Da’duuuuu, ingga yero nakk?” Ingga tau ku sideppe ta’ nak?”

Nama anak ini Da’du, beberapa kali ibunya mengulang kalimat di atas, dengan nada yang sedikit menggoda anaknya. Saat itu saya berada di dekat Da’du, sambil memegang tangannya yang kecil dan mengusap-usap kepalanya. Kalimat menggoda yang ibunya maksud “Da’duuuu, siapa itu nak? siapa orang yang ada di dekat mu nak?”.

Dalam keadaan terbaring ia merespons godaan ibunya dengan sangat riang. Hal tersebut ia tunjukan dengan terus menggerak-gerakkan tangannya dan sesekali menghentakkan kakinya di tempat tidur, ia terus mengoceh dan tertawa hingga memperlihatkan semua gigi yang sudah tumbuh tapi mulai kecoklatan dan keropos.

Hydrocephalus, penyakit inilah yang sedang diderita oleh Da’du, usianya kira-kira tiga tahun saat itu. Di saat anak seusianya telah tumbuh dengan tingkah yang menggemaskan, bermain, dan berkeliaran di sekitar rumah. Da’du hanya mampu terbaring di atas kasur yang dilapisi terpal, berat kepala yang semakin hari semakin membesar, penglihatan yang semakin memburam. Penyakit tersebut benar-benar merampas masa kecil yang harusnya juga ia alami.

Da’du dirawat di rumah yang kira-kira luasnya sekitar 4×6 meter , ia tinggal bersama ibu dan kakeknya. Atap rumahnya terbuat dari susunan daun kelapa kering yang dijahit sedemikian rupa, dindingnya dari papan yang disusun hingga tak ada celah.

Saat mulai melangkahkan kaki dari pintu depan ke dalam rumah tepatnya mengarah ke utara. Di sebelah barat pintu masuk, kami langsung menjumpai tempat tidur kayu menghadap ke timur, lebarnya kira-kira 0.5 meter dan panjangnya sekitar 1.5 meter, ada seorang kakek yang sedang terbaring di atas tempat tidur tersebut. Berdampingan dengan tempat tidur kakek, terdapat satu tempat tidur besi, tempat tidur itu menghadap ke utara dan di situ saya melihat Da’du terbaring tak berdaya.

Kunjungan saya tersebut bersama Ewind (teman penelitian saya) dan Kak Hatang (seorang tokoh masyarakat Dusun Tampaning) yang ikut menemani kami. Sebelumnya kami diberitahu bahwa ada anak penderita Hydrocephalus di kampung tersebut, sehingga kami berniat untuk datang menjenguk.

Setelah dipersilahkan masuk, kami berjabat tangan dengan ibu Da’du sambil menyerahkan beberapa bingkisan yang mungkin tidak seberapa nilainya. Kami dipersilahkan duduk tepat di sebelah timur tempat tidur Da’du.

Rumah tersebut berlantaikan tanah, namun sebagian ditutupi karpet plastik berwarna putih. Setelah saya duduk di karpet tersebut, saya memastikan karpet itu adalah plastik baliho bekas pemilihan umum daerah yang dipasang terbalik.

Belum lama duduk, saya mendengar suara kasak-kusuk di bagian dalam rumahnya, saya kemudian beranjak dan melewati dua tempat tidur tersebut. Ada sekat untuk menuju ke arah timur di dalam rumahnya. Luasnya sekitar 2 meter persegi dan itu adalah dapur sekaligus tempat untuk buang air kecil, serta terdapat beberapa tong penampungan air.

“Fua….ajjanahh ta ebbu uaefella…silalo ta maneng je’ onnang fura menung…ajjanah ajjanah” Saya mulai mencegah ibu Da’du, yang saat itu berniat membuatkan kami secangkir teh.

“Fua,,,manekka si ndi’…” Ibu Da’du menerima cegahan saya, sambil tertawa dan menepuk-nepuk lembut bahu saya. Saya membalasnya dengan tersenyum dan meraih lengannya, mengajak kembali duduk di samping tempat tidur Da’du.

Kami mulai berbicara banyak dengan Ibu Da’du, kebetulan ibu Da’du adalah seorang petani aren sekaligus pembuat gula merah, hal tersebut terkait dengan materi penelitian saya. Selain itu, kami juga berbicara banyak mengenai keadaan Da’du.

“ Na foji tuh ku maegah tau ku sideppe na” kata ibu Da’du.

Ibunya menjelaskan, Da’du sangat senang jika banyak orang yang berada di dekatnya. Selama ini, mungkin ia hanya mengenali suara ibu dan kakeknya saja. Selain ke Pustu untuk berobat, Da’du hampir tidak pernah dibawa ke luar rumah. Baik itu untuk berjalan-jalan ataupun sekadar bercengkerama dengan tetangga. Hal tersebut karena kondisi Da’du yang semakin tidak memungkinkan untuk dibawa keluar. Tubuhnya semakin berat karena kepalanya semakin membesar, sehingga sangat sulit untuk digendong.

Saya pun sempat menanyakan, apakah Da’du pernah dibawa kerumah sakit untuk berobat atau tidak, dan menurut keterangan ibunya, Da’du belum pernah dibawa ke rumah sakit karena persoalan biaya. Berdasarkan informasi Kak Hatang, para bidan desa pernah melapor kepada petugas kesehatan daerah kabupaten mengenai penyakit Hidrocepalus, yang diderita oleh Da’du. Bahkan Da’du sudah pernah di kunjungi oleh petugas kesehatan di rumahnya. Menurut keterangan Kak Hatang juga, ibu Da’du sebenarnya takut membawa anaknya ke rumah sakit, hal itulah yang menyebabkan pengobatan  Da’du belum ditindak lanjuti hingga saat itu.

Mengenai ayah. Da’du ditinggal pergi oleh ayahnya, saat umurnya masih beberapa bulan. Menurut cerita Kak Hatang, setelah melihat anaknya yang selalu sakit-sakitan dan mulai menunjukkan keanehan di kepalanya. Ayahnya tidak pernah lagi peduli dengan Da’du dan ibunya. Tidak lama setelah itu, ayahnya pergi meninggalkan kampung dan tidak pernah sekali pun kembali untuk menjenguk Da’du.

Semenjak ayahnya pergi, mau tidak mau ibu Da’du harus menjadi tulang punggung keluarga. Kakek Da’du yang usianya kira-kira sudah menginjak 80 tahun, kondisi penglihatan dan pendengarannya sudah mulai terganggu, serta tubuhnya yang sudah mulai melemah, membuatnya tidak mampu lagi membantu anaknya mencari nafkah.

Setiap pagi, ibunya menitipkan Da’du kepada kakeknya sebelum berangkat ke kebun. Di lahan yang tidak jauh dari rumahnya, terdapat beberapa pohon aren. Hampir setiap hari, ibu Da’du memanjat pohon untuk mengambil air aren.

Saat kembali ke rumah, selain mengurus Da’du dan kakek. Ibu Da’du harus kembali menyiapkan kayu bakar dan menyalakan api di tungku pembakaran. Rutinitas sehari-harinya adalah membuat gula merah. Setiap tiba hari pasar, ia tidak pernah luput membawa gula merah buatannya untuk dijual.

Di balik pribadi yang tenang dan mata yang sendu, sangat jelas beban hidup yang tidaklah mudah dialami ibu Da’du. Semua nampak jelas di balik tatapannya, namun saya melihat ada semangat dan kegembiraan yang membara, setiap kali ia mencoba menghibur dan menggodai anak semata wayangnya.

Ingin sekali rasanya mengetahui bagaimana kabar Da’du, ibu dan kakeknya saat ini. Namun dengan segala keterbatasan, saya hanya mampu berharap mereka sekeluarga hidup lebih baik. Yang terpenting, segala doa untukmu adikku Da’du. Semoga saat ini, kamu sudah sembuh dan tumbuh menjadi anak yang sehat dan bahagia selamanya.

Kenangan Membuat Gula Merah Bersama Ibu Da’du

***

 

Iklan

Penulis:

SarwendahMoury| Sang Pemimpi|Pemilik segudang mimpi|Bermimpi tiap hari| berharap mimpi bukan hanya sekedar mimpi| memimpikan semua hal indah|ayo bermimpi|jangan takut tuk bermimpi|karena bermimpi sangatlah menyenangkan| hay mimpiku...tunggu aku!!

3 tanggapan untuk “Da’du

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s