Kampung dan Kenangan Masa Kecil

Sejak umur 7 tahun, saya tinggal bersama nenek dan kakek saya di kampung halaman, tepatnya di Kabupaten Soppeng. Sebelumnya, saya bersama orang tua dan kedua saudara saya tinggal di Malino, di rumah dinas bapak ketika masih aktif sebagai seorang tentara. Saat itu, bapak mengalami sakit keras, sedangkan adik saya waktu itu masih sangat kecil. Dengan terpaksa ibu harus menitipkan saya dan juga kakak saya kepada mertuanya, tepatnya nenek saya yang berada di Soppeng.

Sakit berkepanjangan yang diderita oleh bapak, membuatnya harus mengambil pensiun dini dan menjalani perawatan di Rumah Sakit Pelamonia. Hal tersebut juga membuat saya dan kakak, mau tidak mau harus melanjutkan sekolah di Soppeng. Saat itu, saya sudah mengerti banyak tentang alasan mengapa  harus dititipkan pada nenek. Tapi, di usia saya yang saat itu masih berumur 7 tahun, wajar saja jika saya berat untuk menjalani hari-hari tanpa orang tua. Hampir tiap malam saya menangis menginginkan mama saya. Terlebih, saya harus mulai beradaptasi dengan lingkungan baru dan bahasa bugis, yang masih asing bagi saya saat itu.

Nenek saya adalah orang yang sangat tegas, keras dan disiplin. Hampir setiap malam saya menangis dan kemudian dihadiahi pukulan ataupun di poro’. Poro’ (semburan) adalah cara ampuh untuk menghentikan tangisan anak-anak cengeng kala itu. Jahe dan sedikit air yang dikunyah bersamaan, lalu nenek kemudian melakukan poro’ ke mata saya saat menangis. Poro’ adalah jenis ancaman dan hukuman yang sangat saya takuti.

Mamaaaa’..sakiitt mama’…sakiit mama’!!!

Itulah kata-kata yang terus saya ucapkan, setiap kali menangis tersedu-sedu menahan perihnya mata karena semburan jahe, atau kerasnya pukulan yang saya terima. Saya dan kakak saya bergantian saling menghibur ketika mendapat masalah dengan nenek, tapi tidak jarang juga saya dan kakak saya menjadi teman bertengkar untuk sebuah persoalan sepele.

Hampir lima tahun, saya menjalani sekolah dan menghabiskan masa-masa kecil saya di sana. Bahasa bugis sudah menjadi bahasa sehari-hari saya untuk berkomunikasi saat itu. Pertemuan saya dengan mama-bapak hampir sekali setahun. Jika usai penaikan kelas dan mendapat libur panjang, terkadang tante saya yang rumahnya bersebelahan dengan rumah nenek, berbaik hati membawa saya dan juga kakak ke Makassar, untuk mempertemukan kami dengan orang tua.

Rumah Sakit Pelamonia, tempat bapak saya dirawat bertahun-tahun. Saya selalu senang menghabiskan waktu libur dengan bertemu orang tua, walau itu hanya di Rumah Sakit. Saya masih ingat, tempat bermain saya adalah bekas kolam ikan di rumah sakit Pelamonia. Kolam itu sudah tua, berlumut, airnya tinggal semata kaki dan terdapat banyak sekali kecebong (berudu). Saya dan kakak saya selalu berlomba menangkap kecebong sebanyak-banyaknya, lalu memasukkannya ke dalam wadah plastik, bekas air minum gelas. Kolam itu menjadi tempat bermain favorit saya dan kakak saat itu.

Pertemuan kami dengan orang tua sangat singkat, paling 1-2 hari. Sebelum dibawa kembali ke kampung, mama selalu mengajak kami ke toko pernak-pernik dan peralatan sekolah. Kakak saya tidak pernah lupa untuk minta dibelikan tipp-ex kuas dari mama. Saat itu, masih jarang sekali murid di kampung saya yang membawa tipp-ex ke sekolah. Mungkin, kakak saya saat itu menganggap dirinya orang paling membantu di kelasnya, saat teman-temannya butuh pinjaman untuk mengoreksi tulisan mereka.

Sedangkan saya, paling senang jika mendapat jepitan rambut terbaru dari mama untuk hadiah liburan. Sebelum ke sekolah, saya selalu minta bantuan kakak untuk mengikatkan rambut dan menghiasi rambut saya dengan jepitan .

Selama lima tahun tinggal bersama nenek, setiap bulan kami rutin dikirimkan uang oleh mama. Saat itu, belum secanggih sekarang yang bisa transfer lewat ATM. Jika bukan lewat Kantor Pos, kami mendapat kiriman melalui mobil panther langganan mama yang tujuan ke Soppeng. Setiap kiriman, selalu ada sepucuk surat yang turut disematkan oleh mama.

Saya dan kakak selalu kegirangan tiap kali mendapat kiriman uang jajan ataupun baju baru. Kakak saya juga selalu membacakan surat dari mama dengan lantang, dan saya selalu bersemangat menjadi pendengarnya.

“Assalamualaikum…

Teruntuk anandaku Linda dan Wenda ”

Surat itu, selalu dimulai dengan salam dan kata di atas. Inti dari setiap surat yang selalu mama tuliskan adalah, “jangan nakal, belajar yang rajin, dan alasan mama yang belum sempat menjemput ataupun menjenguk kami di Soppeng”. Sekarang saya berfikir dan menyesal,  kenapa surat-surat itu tidak pernah saya kumpulkan dan simpan dengan baik. 

Saya tumbuh menjadi anak yang cengeng dan penakut, terutama takut dengan sosok nenek. Sampai saat ini, saya bahkan lupa kapan nenek memperlakukan saya dengan manis.

Menjelang penaikan kelas 6 SD, saya melanjutkan sekolah di Makassar. Bapak yang Alhamdulillah telah sembuh dari sakit panjangnya, kembali menjemput saya untuk melanjutkan sekolah dan tinggal di rumah baru kami di Makassar. Setelah setahun saya tidak tinggal bersama nenek, kami mendadak mendapatkan kabar bahwa beliau telah meninggal.

Saya ikut pulang kampung bersama orang tua dan kedua saudara saya setelah mendengar kabar itu. Hal yang sangat saya sesalkan hingga sekarang adalah, saya tidak merasa sedih sama sekali saat itu. saat dewasa saya mulai sadar, saya bahkan tidak pernah menunjukkan rasa terima kasih yang teramat besar kepadanya sebelum beliau meninggal, bahkan dengan segala jasa-jasanya telah merawat dan membesarkan saya.

Indo’ adalah panggilan saya kepada nenek. Entah, kenapa semua kenangan masa kecil di sana, sangat terekam baik di kepala saya sampai saat ini. Bahkan ketika saya dan kakak saya kembali mengenang masa kecil, kami selalu bersamaan, berpaling muka meneteskan air mata, bahkan menangis tersedu-sedu di balik kerah baju kami.

Mungkin akan terasa sangat canggung, untuk mengatakan “untuk semuanya, terima kasih  indo’ “

Doaku selalu menyertaimu, semoga engkau tenang dan berbahagia di alam sana. Saya sangat suka dengan suasana kampung, tapi suasana berkumpul dengan mama, bapak , kakak dan adik saya adalah suasana yang sangat indah melebihi kampung.

Sudah hampir 11 tahun, saya dan keluarga berlebaran di Makassar. Namun kami tidak pernah melewatkan pulang kampung usai lebaran Iedul Fitri. Karena yang terpenting adalah  berziarah ke kuburan kakek-nenek, serta silaturahmi dengan keluarga di sana.

***

Oh iyah, selamat menyambut Hari Raya Iedul Fitri. Semoga kita selalu bisa berdamai dengan masa lalu dan selamat dunia-akhirat. Aamiin.

Iklan

Penulis:

SarwendahMoury| Sang Pemimpi|Pemilik segudang mimpi|Bermimpi tiap hari| berharap mimpi bukan hanya sekedar mimpi| memimpikan semua hal indah|ayo bermimpi|jangan takut tuk bermimpi|karena bermimpi sangatlah menyenangkan| hay mimpiku...tunggu aku!!

6 tanggapan untuk “Kampung dan Kenangan Masa Kecil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s