Makanan dan Pasangan

20160731_172242
Bakso MJ Makassar

Terus terang, saya cukup bingung untuk menentukan tema tulisan minggu ini. Mendapatkan kabar untuk membuat ‘tugas akhir’, membuat saya cukup kesulitan menyesuaikan waktu dengan kegiatan pelatihan, kondisi kesehatan yang terganggu, mengumpulkan mood dan pada akhirnya saya tidak mengerjakan ‘tugas akhir’ tepat waktu. Untunglah ada sedikit kebijaksanaan dari kakak-kakak Kelas Menulis Kepo, untuk memberikan kami tambahan waktu menyelesaikan tulisan kami.

Berada di Malang selama dua minggu, membuat saya sedikit frustasi. Beberapa kali, kondisi saya terganggu karena alergi makanan, dan juga kerap menahan lapar karena tidak selera dengan hidangan makanan yang serba manis.

Saya dengan beberapa teman dari Sulawesi, memutuskan untuk keluar hotel dan berjalan-jalan ke kota Malang. Tujuan utama kami adalah mencari bakso ter-enak. Konon, Malang adalah gudangnya bakso dan keripik buah.

Kedai bakso yang luasnya kira-kira 15×20 meter yang terletak di tengah kota, menjadi pelabuhan kami. Saya mulai meraih mangkuk dan mengisi beberapa biji bakso, tahu dan kerupuk pangsit di dalamnya. Setelah itu, saya menuju ke tempat pengambilan kuah sekaligus membayar bakso yang kami ambil.

Setelah meletakkan mangkuk bakso di atas meja, saya mulai berniat meracik kuahnya. Saya membuka semua keramik-keramik kecil, yang ternyata hanya berisi garam, sambel dan vitsin yang cukup tertata rapi di atas meja. Saya menerawang di setiap sudut meja kedai tersebut, tapi tidak ada sama sekali penampakan jeruk nipis, di penghujung pandangan saya.

“Mas…mas…ada jeruk nipis nya??” tanyaku kepada salah satu pegawai kedai tersebut. Matanya menerawang dan kepalanya sedikit miring sambil menatap saya dengan aneh.

“Minta jeruk nipisnya mas” saya pun kembali menegaskan permintaan saya tadi.

Sambil tersenyum kecut, pegawai itu berkata “Nggak ada mbak  jeruk nipisnya. . .mau cuka poh?”

“oh…kalau begitu ndak usah mas” jawabku kecewa.

Saya adalah penggemar bakso, tapi se-enak apapun bakso itu kalau tanpa jeruk nipis, rasanya tetap ada yang kurang. Sekitar tiga kali saya makan bakso di tempat yang berbeda, lagi-lagi jeruk nipis tidak saya dapatkan pada semangkuk bakso yang saya pesan.

“Di sini, jeruk nipis mahal yah mas?” tanyaku pada mas penjual bakso

“Lah…emang nggak ada mbak di sini yang makan bakso pakai jeruk nipis” jawab mas penjual bakso itu.

Setelah beberapa hari yang lalu menginjakkan kaki di Makassar, saya pun membalaskan dendam pada semangkuk kapurung dan pangsit bakso, tentunya dengan perasan jeruk nipis yang wajib hadir, oh…nikmatnya tiada tara….ulala.

Memiliki lidah yang sangat lokal, ternyata sangat menyulitkan ketika berada di tempat baru. Bukan hanya persoalan makanan, tapi di sana saya juga cukup di sulitkan dengan persoalan pasangan.

Berbicara mengenai pasangan, pelatihan kemarin di Malang berlangsung selama dua minggu, dan selama itu pula saya menjadi bahan bully-an. Saya tidak menyangka orang-orang yang menjadi teman kerja saya, sebagian besar semuanya sudah berkeluarga. Hanya beberapa orang termasuk saya yang masih lajang dan menjomblo pula. Selain umur yang masih terbilang muda di antara mereka, jadilah saya bahan candaan orang-orang di sana.

“Wenda…jangan kelamaan loh, jangan keasikan mikirin kerjaan”

“Wenda…itu si anu di gubris donk…dia jomblo juga loh”

“Wenda…cie-cie lagi japri-an yah sama si anu”

“Wenda…kayaknya nasuka ko itue..tapi jammoko sama dia do’”

Deretan kalimat di atas dilontarkan oleh orang-orang yang berbeda, saya pun terkadang merasa risih sendiri mendengarnya. Saya tidak yakin dengan beberapa pertanyaan yang membahas mengenai status, bahkan teman-teman mencoba “mencomblangkan” saya dengan beberapa rekan di sana, yang juga masih melajang. Parahnya lagi, di sela-sela materi pelatihan berlangsung, tidak jarang pemateri pun menyelipkan celetukan khusus untuk saya dengan orang yang coba mereka comblangkan.

Jomblo!

Saya sebenarnya kurang paham, mengapa arah tulisan saya dari kuliner mengarah ke jomblo, sebenarnya saya hanya ingin menceritakan, apa saja yang saya alami selama dua minggu terakhir di sana. Didiskriminasi oleh orang-orang yang telah sukses menyandang status “sudah menikah”.

Wen…sudah mulai menulis? Tema apa? Kalau mentok dikonsultasikan yah” kata Kak Ifa (Kakak pendamping Kelas Menulis Kepo) yang dikirim melalui pesan LINE.

“Iye…tema ku tentang ‘jomblo’ kak” balasanku untuk Kak Ifa

“Deh…isu sensitif..hahaha” balas Kak Ifa lagi.

Banyak pendapat mengenai arti jomblo, di antaranya ada yang mengatakan bahwa :

JOMBLO adalah sebutan bagi orang yang tidak mempunyai ikatan hubungan dengan lawan jenis. Jomblo bukan berarti kuper / kurang pergaulan. Hanya saja menunggu orang yang tepat untuk dijadikan teman hidup dikala kesepian, yang jalinan hubungannya tidak akan putus di tengahjalan.

http://www.kompasiana.com/aneh/7-makna-kata-jomblo_55205977813311a47419f7a4

Dari segi agama, tentunya ada yang lebih menekankan pada kemuliaan menjadi seorang jomblo, seperti pendapat berikut ini:

Jomblo FiiSabilillah dapat membentuk arti, bahwa “JOMBLO” adalah belum pernah memiliki pacar. Dan Fisabilillah adalah orang-orang yang berjuang dan berjihad di jalan Allah swt. Dari definisi sudah jelas, jika Jomblo Fisabilillah memang orang yang taat kepada agama dan senantiasa menjauhi dari larangannya http://dinakurniawahyuni.blogspot.co.id/2016/03/jomblo-fii-sabilillah-jfs.html

Ada juga yang sedikit lebih ekstrim berpendapat mengenai jomblo, seperti berikut ini:

Gue lebih milih status “single” dari pada “jomblo”. Karna menurut gue sih kastanya agak lebih tinggi dikit dari pada jomblo. Di dunia percintaan, jomblo adalah kasta terhina bro! Ibarat single adalah kemiskinan, jomblo sangat jauh di bawah garis kemiskinan! Parah. Hidupnya sepi. Kayak zaman batu. Kuburan. Miris. http://kehidupanjomblo.blogspot.co.id/2013/03/arti-jomblo-sesungguhnya.htm

Alasan menjadi penganut jomblo, tentu sudah terjawab di hati masing-masing orang. Saya pun mencoba mewawancarai salah satu Dosen Sosiologi Unhas, mengenai pendapatnya tentang jomblo, beliau mengatakan bahwa “semua orang memiliki pilihan dan alasan masing-masing dan itu adalah hak mereka sebagai makhluk individu dan sosial”

selain itu, Melalui media sosial, saya mencoba mengabari salah seorang teman baik saya, niatnya adalah mewawancarai dia mengenai alasannya masih betah menjomblo. Usianya terbilang matang, sudah beranjak 30 tahun. Parasnya cantik, kulitnya yang selalu cerah, membuat saya tidak percaya kalau umurnya benar 30 tahun. Dia selalu tampil sederhana, karakternya sangat ramah dan memperlihatkan sosok dirinya yang apa adanya tanpa dibuat-buat. Saya yakin, pasti sudah banyak pria yang mendekatinya untuk serius.

Tanpa basa-basi, saya mulai meminta izin untuk mewawancarainya mengenai hal sensitif untuk saya masukkan dalam tulisan saya. Saya berjanji untuk tidak menyebutkan namanya dalam tulisan saya itu. Walaupun pada awalnya dia menjelaskan, bahwa dia sama sekali tidak keberatan kalau namanya disebutkan.

Karena saking baiknya, dia hanya berkata “hahahahahha…iya wawancarai ma”, ia mengizinkan saya menanyakan hal apapun itu yang akan saya tulis.

“Kak…minta maafka’ sebelumnya nah…apa alasan ta’ masih betah menjomblo?” tanyaku dengan rasa sedikit bersalah.

Dia lagi-lagi membalas dengan “huahahahhahahahahahahah” yang begitu panjang.

 Saya tidak mengerti apakah pertanyaan saya itu benar-benar lucu, ataukah dia menertawakan pertanyaan saya yang sangat to the point.

“Bukan soal betah atau tidaknya sih, tapi….apa di’???  klisenya sih, belum ada yang cocok, mungkin karena saya pernah jatuh cinta dengan orang yang salah. Intinya saya bukan tipe orang yang bakal sedih karena tidak punya pacar” jawab kakak cantik yang tidak ingin saya sebutkan namanya itu.

Ada contoh lagi, yang dia berikan pada saya :

“Ibarat kamu mau makan mie goreng, tapi pas sampai di warung, mie gorengnya habis dan yang ada cuma makanan lain. Mencari pasangan bukan persoalan makan apa saja yang ada di depanmu. Bukan juga persoalan aku jomblo, kamu  jomblo kita jadian saja. Jomblo bisa saja bersikap tidak peduli, tapi sampai kapan? Sampai lingkungan mengusiknya! Lingkungan yang seperti apa? Lingkungan yang memiliki paham bahwa ‘memiliki pasangan adalah sebuah prestasi dan hidup tanpa pasangan adalah sesuatu yang teramat patut dikasihani’”

Dia memang wanita yang keren dan sangat mengagumkan bagi saya, semua perkataannya pasti berakhir menenangkan. Saya merasa masih terlalu muda untuk memusingkan mengenai kejombloan. Tapi ketika saya berada di antara orang-orang yang telah berkeluarga, rasanya ingin cepat-cepat menyebarkan undangan, supaya mereka bisa sedikit berhenti membully saya mengenai jodoh.20160731_172242

Impian semua jomblo’ers, saya yakin hampir sama. Menikah dengan orang yang tepat dan hidup bahagia selamanya. Saat ini, saya hanya ingin menjalani hidup dengan santai sambil menunggu seseorang yang mampu membawaku mendaki puncak gunung terindah di Indonesia dan menjadi imam di setiap salat ku dan arahku melangkah. Ahhh….so sweettt…

Iklan

Penulis:

SarwendahMoury| Sang Pemimpi|Pemilik segudang mimpi|Bermimpi tiap hari| berharap mimpi bukan hanya sekedar mimpi| memimpikan semua hal indah|ayo bermimpi|jangan takut tuk bermimpi|karena bermimpi sangatlah menyenangkan| hay mimpiku...tunggu aku!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s